Kebun yang Menjaga Tanaman

Syahdan diceritakan, pada satu pagi seorang Sulthan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi sedang duduk-duduk di balkon istananya yang megah. Tanpa sengaja pandangannya berhenti pada sosok seorang wanita yang sangat cantik jelita, terkesima sang Sulthan langsung bertanya pada para pembantunya. “Oh, itu Mustika Maya, istri Hang Jebat, tuanku Baginda. Laksamana kerajaan yang sangat perkasa, mereka baru menikah 2 hari yang lalu”. Jawab salah seorang pembantu Sulthan.

Sulthan terkesima dengan kecantikannya, lalu muncul pikiran nakal untuk mendekati wanita tersebut. Pagi berlalu beranjak siang, malam pun datang menjelang, namun pikiran Sulthan selalu melayang, terus mengenang si ikal mayang, “Bidadari” yang dilihatnya tadi pagi menjelang siang.

Syaithan datang melemparkan ide jahat, lalu Sulthan memanggil Hang Jebat, perwira perkasa pada malam itu juga. “Wahai Hang Jebat laksamana perkasa, keadaan negeri gundah gulana, kerajaan butuh bhakti sang perwira, membawa amanah ke Negeri Lingga. Tiada kulihat seorang perwira, yang mampu memikul tugas nan mulia, kecuali dikau wahai sang mutiara. Aku perintahkan esok di pagi buta, Laksamana berlayar ke Negeri Lingga”. Titah Baginda Sulthan. “Duli Sulthan mulia, hamba siap menjunjung perintah.” Jawab Laksamana Hang Jebat dengan bijak. Hang Jebat pulang membawa surat, tiada pun tahu maksud tersirat, di hati raja kan berbuat jahat. Inilah susahnya menjadi rakyat, apapun jua titah pejabat, harus ditu-naikan tak boleh bersyarat, walaupun bulan madu baru sekejap, namun perintah Sulthan sebuah amanat, harus ditunaikan walaupun berat.

Setelah Subuh di hari Selasa, Hang Jebat pamit tinggalkan dinda tercinta, untuk menunaikan titah baginda. Walaupun hati gundah gulana, sang istri rela melepas kepergian kanda tercinta.

Belumlah jauh Hang Jebat berjalan, Sulthan ke rumahnya datang menyambang, pintu pun diketuk pelan-pelan. “Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Mustika Maya sambil membuka pintu. “Saya Sulthan datang bertandang, niat menjenguk dinda seorang”, jawab Baginda menggoda. Mustika Maya terkejut bukan kepalang lalu berucap, ”Ada apa gerangan Paduka datang, di pagi hari menjelang siang. Bukanlah adat lelaki sejati, ke rumah perempuan yang ditinggal suami. Hamba berlindung kepada Allah atas kunjungan ini. Hamba tak pikir ini kunjungan yang baik”. Mendengar kalimat pedas nan halus, sang Sulthan marah. ”Tidakkah engkau tahu, aku paduka rajamu yang bisa berbuat apa saja?”. “Hamba sangat paham wahai baginda yang mulia. Tapi baginda telah didahului oleh tutur kata orang tua-tua”

Akan kutinggalkan air milikku tanpa bunga,

karena banyak orang yang mendambakannya.

Bila seekor lalat di atas hidangan, urung tangan menjamahnya,

walau hati sangat menginginkannya.

Singa-singa pun tak mau mendekat ke telaga,

jika anjing-anjing telah menjilat sari pati telaga.

“Wahai baginda, paduka telah datang ke tempat minum anjing, apakah baginda mau minum air bekasnya?”.

Mendengar tutur bijak Istri Hang Jebat, Sulthan malu bukan kepalang. Tiada kalimat sanggup menjawab, Baginda langsung beranjak pulang. Namun apa daya Istri Hang Jebat, malang tak dapat dihadang, maut tak dapat ditolak, tanpa sengaja Sulthan ketinggalan sepatunya.

Adapun Hang Jebat, takdir membawanya untuk kembali, karena surat perintah Sulthan ketinggalan di bawah bantal. Begitu sampai di depan pintu, terlihat olehnya sepatu Baginda, naluri laki-lakinya berkata: “Tidaklah Sulthan memberikan perintah kepadanya kecuali ada maksud tertentu yang hari ini terjawab.”

Disuruhnya Mustika Maya berkemas, seluruh pakaian di bawa serta, seakan hendak pergi lama. Dibawanya sang “Bidadari” tercinta ke rumah orang tuanya, lalu perwira perkasa ini pergi menunaikan tugas.

Selesai sudah tugas berat diemban, hadiah Sulthan pun dalam genggaman, kembalilah sang perwira ke rumah dalam keadaan merana, karena sang istri tak hendak dijemputnya.

Sebulan sudah waktu berjalan, tak ada gelagat Hang Jebat kan menjemput sang pujaan, melihat keadaan yang tak wajar ini, pahamlah saudara laki-laki Mustika Maya ada yang tak selesai, lalu bergegas dia datang menyambang hendak bertanya: “Katakanlah kepada kami penyebab kemarahanmu. Atau kalau tidak kami akan adukan masalah ini kepada Sulthan”. Hang Jebat menjawab. ”Jika kalian ingin mengadukannya kepada Sulthan, maka lakukanlah, aku tidak mempunyai hak apa-apa lagi terhadap istriku”.

Maka mereka pun mengajukan permasalahan ini kepada Sulthan. Sulthan memerintahkan Hakim Kerajaan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ipar Hang Jebat berkata: ”Tuan Hakim yang bijak bestari. Aku telah mempekerjakan orang ini di kebun milikku yang berpagar kuat, mempunyai mata air yang jernih, penuh pepohonan yang berbuah lebat. Namun setelah menikmati buahnya, tanpa alasan yang jelas dia meninggalkannya”. Hakim kerajaan berpaling ke arah Hang Jebat, ”Apa komentarmu wahai Hang Jebat?”. Hang Jebat menjawab: ”Wahai tuan Hakim pagar negeri, sungguh benar aku telah menerima kebun tersebut, namun sekarang telah kuserahkan kembali dalam kondisi jauh lebih baik dari sebelumnya”. “Apakah ia menyerahkan kebun itu seperti semula?”, tanya Hakim. Saudara laki-laki Mustika Maya menjawab: ”Benar wahai tuan hakim, tapi aku ingin tahu penyebab mengapa dia mengembalikannya?”. Laksamana Hang Jebat menjawab: ”Demi Allah wahai tuan hakim, aku tidak mengembalikannya lantaran benci kepadanya. Suatu hari aku datang ke kebun itu dan melihat bekas jejak harimau (sepatu Sulthan), aku takut kalau harimau itu membunuhku. Aku menahan diri agar tidak masuk ke kebun itu sebagai penghormatanku terhadap harimau nan perkasa itu”.

Mendengar kalimat itu, sang Sulthan yang duduk di samping Hakim mafhum, mukanya merah padam lalu bertutur: ”Wahai Hang Jebat Laksamana bestari, kembalilah ke kebunmu dengan aman dan tenang. Demi Allah, harimau itu memang telah masuk ke kebunmu dan meninggalkan jejak. Namun yakinlah, ia tidak menyentuh sehelai daun atau mengambil satu butir buah pun darinya. Harimau itu hanya masuk sebentar dan keluar tanpa merusak apa pun yang ada di dalamnya. Demi Allah, harimau itu belum pernah melihat kebun yang sangat menjaga pagar dan pepohonannya lebih dari kebunmu”.

Mendengar jawaban Sulthan, Laksamana Hang Jebat pulang membawa istrinya. Sang Hakim maupun hadirin yang mengikuti sidang itu, tidak satu pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Bila lalat ada di atas hidangan, urung tangan menjamahnya.

Singa pun tak hendak mendekat ke telaga, bila anjing telah menjilatnya terlebih dahulu.

 

 

 

Diambil dari : http://bacagerimis.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: