Mahar

Pernikahan adalah saat yang dinanti-nanti bagi sepasang hati yang saling berjanji untuk mengikatkan cinta dalam balutan ridha Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang tidak ingin menikah…? Setiap yang mengaku menjadi pengikut Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak ingin meninggalkan sunnah beliau yang satu ini. Menikah bagaikan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Ada satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah, yaitu mahar atau maskawin.

Kali ini kita akan berbicara seputar mahar….. selamat menyimak….

Di Qur’an Surat An-Nisa’ ayat  4, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

“Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Syaikh ’Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di dalam Manhajus Salikiin hal  203 berkata : Dalam ayat tersebut Alloh memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang hendak dinikahi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah, meskipun pihak wanita telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar. Jika mahar tidak disebutkan dalam akad nikah maka pihak wanita berhak mendapatkan mahar yang sesuai dengan wanita semisal dirinya .

Dan perlu diingat bahwa Mahar merupakan hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil oleh orang tua, keluarga maupun suaminya, kecuali bila wanita tersebut telah merelakannya.

Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan mahar dalam syari’at Islam. Namun Islam menganjurkan agar meringankan mahar. sebagaimana Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah atau ringan.”

Adapun mengenai bentuknya, mahar dapat berupa :

Pertama, “Harta atau Materi dengan Berbagai Ragamnya”

Berdasarkan firman Alloh Ta’ala di surat An-Nisa’ayat ke 24 yang artinya :

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Alloh Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Kedua, “Sesuatu yang Dapat Diambil Upahnya atau  Jasa”

Berdasarkan  firman Alloh Ta’ala di surat Al-Qoshosh ayat ke 27 yang artinya :

“Berkatalah dia (Syu’aib), ‘Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Alloh akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik’.”

Ketiga, “Manfaat yang Akan Kembali Kepada Sang Wanita”

Seperti: Memerdekakan dari perbudakan, berdasarkan Atsar riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Sesungguhnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Shafiyah binti Huyayin (kemudian menikahinya) dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.”

Kemudian, “Keislaman Seseorang”

Hal tersebut sebagaimana kisah Abu Thalhah yang menikahi Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma dengan mahar keislaman Abu Thalhah yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau bekata, “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah masuk Islam sebelum Abu Thalhah, maka Abu Thalhah melamarnya. Ummu Sulaim mengatakan, ’Saya telah masuk Islam, jia kamu masuk Islam aku akan menikah denganmu.’ Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dan keislamannya sebagai maharnya.”

Atau juga, “Hafalan Al-Qur’an yang Akan Diajarkannya”

Sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan salah seorang sahabat dengan beberapa surat Al-Qur’an hafalannya, sebagaimana terdapat dalam Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim, dari Sahal bin Sa’ad bahwa nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam  didatangi seorang wanita yang berkata, ”Ya Rosululloh kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata, ”Ya Rosululloh kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya.” Rasulullah berkata, ”Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar?” Dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab, ”Bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu.” Dia berkata, ”Aku tidak mendapatkan sesuatupun.” Rosululloh berkata, ”Carilah walau cincin dari besi.” Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi, “Apakah kamu menghafal Qur’an?” Dia menjawab, “Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi, “Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Qur’an mu”.

Diperbolehkan bagi laki-laki antara membayar tunai atau menghutang mahar dengan persetujuan si wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang telah disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat. dalam Hadits Riwayat Bukhari Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan farji seorang wanita.”

Jika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa “Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah atau ringan.” Bahkan dalam riwayat lain tersirat bahwa seandainya seseorang tidak memiliki harta sedikit pun untuk dijadikan mahar, maka diperbolehkan membayar mahar dengan mengajarkan Al-Qur’an yang telah dihafalnya kepada wanita yang hendak dinikahi.

Ajaran islam begitu mudah dan tidak memberatkan ummatnya. Untuk apa kita memegang aturan lain jika syari’at dalam agama kita telah memerintahkan sesuatu yang lebih mudah dan mulia? Sesungguhnya sebagian wanita telah berbangga dengan tingginya mahar yang mereka dapatkan, maka janganlah kita mengikuti mereka. Berapa banyak wanita yang terlambat menikah hanya karena maharnya yang terlalu tinggi sehingga laki-laki yang hendak menikahinya harus menunggu selama bertahun-tahun agar dapat memenuhi maharnya. Alangkah kasihannya mereka yang harus menggadaikan hati padahal perkara ini amat mudah penyelesaiannya. oleh karena itu wahai para orang tua yang memiliki anak gadis yang hendak menikah, ringankanlah maharnya….. Wallohu ’alam…..

 

Sumber : www.fajrifm.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: