Penyimpangan MTA ditinjau dari Pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

mtaMajlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang berkedudukan di Surakarta yang didirikan oleh ustadz Abdullah Thufail Saputra rahimahullah pada tahun 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an.

Dalam masalah jama’ah, MTA memiliki Imam sendiri yang dibai’at, dita’ati dan seterusnya, sebagaimana LDII, Jama’atul Muslimin (Hizbullah), MMI, Ikhwani dan lain-lain.
Kalau mereka ini al-jama’ah sebagaimana hadits Rasulullah, lantas mana firqah-firqah yang banyak yang disebutkan Rasulullah.
Sudah sangat jelas mereka membangun wala’ dan bara’ di atas kelompoknya. (bahkan di sebagian tempat ada boikot terhadap orang yang keluar dari MTA)
Dalam masalah aqidah, MTA mengingkari syafa’at di akhirat, mengimani kalau orang Islam masuk neraka ya selamanya sebagaimana pemahaman khawarij/mu’tazilah (tidak ada jahanamiyyun), mengingkari kesurupan jin, mengimani bahwa malam lailatul qadr sudah tidak ada lagi, mengimani bahwa Allah tidak menetapkan taqdir (tapi sebagai sebab akibat murni, ini pemahaman qadariyah mu’tazilah), tidak mengimani beberapa peristiwa hari akhir antara lain turunnya Isa, munculnya Dajjal, dan Imam Mahdi, beraqidah Asy’ariyah dengan menakwilkan asma wa sifat Allah, istawa nya Allah, wajah Allah, tangan Allah, Allah dimana-mana, dan lain-lain.
Dalam masalah manhaj, metodologi MTA dalam memahami agama adalah mendahulukan akal, kadang mengesampingkan hadits shahih (bila dianggap menyelisihi Al-Quran), apalagi atsar, atau perkataan para ‘ulama kibar. Dari metodologi ini maka anjingpun jadi halal, sutera dan emas untuk laki-laki juga mubah, atau paling banter jadi makruh hukumnya.
Disamping itu, dalam masalah fikh juga terjerumus dalam bid,ah, padahal masalah memerangi bid’ah ini menjadi jargon MTA. Sangat ironis memang! Contohnya, menerapkan zakat tanpa memakai haul dan nishab, orang safar boleh bertayamum (bahkan menjadi kebiasaan sebagian besar warga MTA) walaupun di depan mata ada air yang melimpah.
Berikut ini beberapa penyimpangan MTA ditinjau dari pemahaman Ahlu Sunnah wal Jama’ah :
  1. Tidak menggunakan qo’idah tafsir yang benar, MTA membuat metode tafsir sendiri sehingga banyak kekeliruan di dalamnya.
  2. Memalingkan makna sifat-sifat Allah dengan tanpa hujjah yg benar.
  3. Membuang sifat AL-HAYAA-U bagi Allah Azza wa Jalla (Q.S Al-Baqarah:26) dan menggantinya dengan makna “Meninggalkan sesuatu perbuatan” berhujjah dengan hadits lemah bahkan salah dalam penulisan matannya.
    Padahal Rasulullah menyatakan dalam sabdanya: “innallaha hayiyyun kariimun” Sesungguhnya Allah Pemalu lagi Maha Mulia” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi)
  4. Menolak Sifat Wajah bagi Allah Azza wa Jalla. MTA katakan :”Allah tidak mempunyai muka”. Sedangkan Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan hal ini dalam firmanNya (Q.S Al-Baqarah:272), juga hadits-hadits dari Rasulullah Shalalllahu ’alaihi wassalam “Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggal sehingga engkau melakukan amalan yg mengharap dengan WAJAH ALLAH” (H.R Bukhari dan Muslim)
  5. MTA meyakini bahwa surga tempat tinggal ADAM adalah di BUMI. Mereka menafsirkan surat Al-Baqarah:35 bahwa Surga Adam itu adalah “KEBUN DI ATAS BUMI INI”. Padahal ini adalah pendapat yang masyhur dari orang-orang qadariyyah dan mu’tazilah.
  6. Menyelewengkan makna bahkan mengingkari syafa’at nabi. Dalam tafsir surat Al-Baqoroh:48 mereka mengatakan bahwa syafa’at adalah “TIUPAN ‘ILMU, BUDI PEKERTI YANG TINGGI DAN PERADABAN KENABIAN YANG SUCI, TEGASNYA DI HARI AKHIR NANTI TIDAK AKAN DITERIMA SYAFA’AT”. Padahal adanya syafa’at ini telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla dan hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.
  7. Meyakini bahwa yang haram hanya 4 saja yang disebut dalam surat Al-An’am:145, sedangkan yang dijelaskan oleh nabi dengan hadits yang shahih diingkarinya. Bahkan berani membuang hadits tersebut.
  8. Salah dalam mendudukkan ayat-ayat untuk orang kafir dan disematkan kepada orang-orang muslim, semisal surat Al-A’raf:40, sehingga mereka menganggap sama hukumnya orang muslim dengan orang kafir jika telah masuk neraka yaitu kekal di dalamnya.
  9. Menganggap yang diharamkan Rasulullah hanya makruh saja jadi boleh dilakukan/dikerjakan. Ini bertentangan dengan surat Al-Hasyr:7, dan Ali Imran :31
  10. Menganggap hadits yg shahih bahkan mutawatir disamakan dengan hadits syadz bila bertabrakan dengan Al-Qur’an, jadi boleh dibuang, dan ini adalah pendapat yang paling bathil dari Inkarussunnah.
  11. Mereka menghalalkan anjing buas, serigala , katak/kodok dll yang telah diharamkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, tetapi utuk menutupi pendapat ini dihadapan para pengikut MTA yang masih pemula maka sang ketua dan para ustadznya menjawab ;”MTA tidak berhak mengharamkan dan menghalalkan anjing, yang berhak mengharamkan dan menghalalkan hanyalah Allah”. Perkataan ini untuk mengelabuhi ummat agar pengikutnya tidak lari karena tahu bahwa ustadznya menghalalkan anjing walau dia tidak memakannya. Lihat bukti perkataan mereka dalam tafsir MTA jilid ke 4 pada saat menafsirkan surat Al-Baqoroh:173. Padahal faham seperti ini telah dibantah oleh Rasulullah, beliau bersabda “Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang diharamkan oleh Allah”. (HR Ibnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
  12. Mereka mengingkari adanya jahannamiyuun, yaitu orang yang beriman yang dientaskan dari neraka oleh Allah Azza wa Jalla berdasarkan ayat-ayat yang diperuntukkan bagi orang orang kafir. Padahal banyak hadits mutawatir yang mengabarkannya. Mereka meyakini bahwa “”wa khobarulwaahidi dhonniyyun” hadits yang ahad adalah DUGAAN/dhonny”. Imam Syafi’i telah membantah perkataan sesat ini dan beliau berkata;“ijma’almuslimuuna qodiiman wahadiitsan’ala tatsbiiti khobarilahaadi walintihaa-i ilaihi” “Kaum muslimin sejak dahulu hingga sekarang telah sepakat atas menetapkan hadits ahad dan berhenti padanya”(Ar-Risalah), juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar A-‘Atsqolani, Ibnu Abil Izz, Syaikh Albani dll.
  13. Menganggap bahwa petunjuk hadits Nabi tidak harus diikuti karena Nabi adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa SALAH. Ini sungguh akan merusak syahadat mereka terhadap Rasulullah, karena Rasulullah bersabda :” TIDAKLAH KELUAR DARINYA MELAINKAN KEBENARAN” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 501; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, dan yang lainnya].
  14. Dalam hukum mawaarits mereka juga tidak menggunakan hadits yang shahih yg menjelaskannya, tapi hanya dengan ayat Al-Qur’an saja yang ditafsirkan akalnya sendiri.
  15. Dalam hukum zakat, mereka membuat ajaran bid’ah yaitu zakat profesi yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya juga imam empat sekalipun.
  16. Dan mereka menyamakannya dengan hukum zakat pertanian, TETAPI anehnya ukuran zakatnya menggunakan zakat MAL. Aneh bin ajaib, bisa bisanya membuat syari’at sendiri.
  17. Membolehkan tayamum mutlaq saat safar walaupun ada air, ini menyelisihi dalil yang sangat banyak.
  18. Menganggap bahwa laki-laki dan perempuan semuanya wajib shalat jum’at secara mutlaq. Padahal jika meruju’ pada hadits nabi tidaklah sebagaimana yang mereka fahami. Dan mereka menganggap orang yang ada udzur di masjid kemudian shalat di rumahpun dianggap shalat jum’at pada hari itu.
  19. Mengatakan bahwa ISBAL hukumnya “MUBAH”, sedangkan Rasulullah telah menyatakan keharamannya dengan adzab neraka jika tidak dengan kesombongan dan bila dengan kesombongan lebih berat lagi yakni tidak diajak bicara oleh Allah dan tidak disucikan.
  20. Menghalalkan musik, maka dari itu dalam radio mereka juga full music, padahal para sahabat telah menafsirkan surat Luqman:6 sebagai haramnya nyanyian dan alat alat music.
  21. MTA tidak mempercayai/meyakini bahwa jin bisa masuk dalam tubuh manusia, sementara Rasulullah telah menjelaskan dengan hadits-hadits yang shahih akan adanya kesurupan dan ruqyah.
  22. Sungguh banyak lagi penyimpangan-penyimpangan dalam MTA dan kesalahan-kesalahan penafsiran mereka, tapi ini cukup kiranya sebagai peringatan agar kita berhati-hati pada faham yang seperti ini. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan tulisan ini di dalam timbangan amalan kebaikan kami. Barokallohufiykum.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: