BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN ANAK YANG MEMBANGKANG

Oleh: DR. Ilyas Zuhair

Pembangkangan adalah sebuah problem yang dikeluhkan oleh mayoritas ummahat (kaum ibu). Itu adalah sumber keletihan, kesusahan dan kecemasan. Seorang ibu akan senantiasa berambisi agar anaknya taat kepadanya. Oleh karena itu, seorang ibu akan kebingungan atas penolakan anaknya terhadap apa yang dia inginkan darinya.

Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk menghilangkan pembangkangannya.
Bersamaan dengan itu, pembangkangan bukanlah sebuah perangai yang lahir bersama dengan anak sebagaimana persangkaan sebagian ummahat. Bahkan itu adalah merupakan isyarat akan ketimpangan kejiwaan seorang anak, sebagai hasil buruknya perlakuan bersama dengan perangai fitrahnya yang tumbuh pada masa pertama dari umurnya.

Jangan kau lakukan! Lakukan
Bagaimanakah perlakuan seorang ibu bersama anak yang melakukan perbuatan yang tidak dia ridhai? Sesungguhnya tuntutan untuk tidak melakukan hal ini dan itu, tidaklah berguna sedikitpun terhadapnya selagi dia masih membangkang. Dia pasti akan tetap menolak segala yang diinginkan darinya.

Maka langkah pertama dalam kondisi seperti ini adalah seorang ibu harus merubah kalimat Jangan lakukan sebagai kata pasti terhadap segala yang dia inginkan darinya, dan menggantinya dengan kalimat Lakukanlah, agar mengeluarkannya dari pembangkangan dengan cara yang lembut.

Contoh; saat seorang ibu mendapati anaknya menulis di tembok, maka sebagai ganti kalimat, “Jangan menulis di tembok!” hendaknya dia mengatakan, “Kemarilah, menggambarlah dengan pensil warna ini di atas kertas ini!”, dengan tidak menampakkan tanda-tanda kebencian atas perbuatannya di wajah sang ibu.

Bahkan ibu harus menampakkan ketidakpeduliannya terhadap apa yang dilakukan oleh sang anak, sekalipun hatinya terkejut dengan apa yang dia lakukan. Demikian pula jika sang ibu ingin menyimpan suatu kebutuhan berharga jangan mengatakan, “Jangan bermain dengan keperluan ini, ini khusus bagiku!” sesungguhnya keadaan seperti ini akan mendorongnya untuk memainkannya tanpa dia sadari.

Menyebut pembangkangan anak di hadapan orang lain:
Sesungguhnya penyebutan keburukan-keburukan anak di hadapan orang lain adalah sebuah kesalahan fatal yang dilakukan sebagian ibu dalam rangka melampiaskan kemarahan dan kejengkelannya karena pembangkangan anak-anak mereka yang menyakitkan. Sesungguhnya mendengarnya anak-anak terhadap pembicaraan seperti itu akan semakin menambah simpul-simpul perendahan harga dirinya, sehingga semakin menambah pembangkangannya.

Penghinaan seorang ibu dari kenakalan anaknya semakin mendorongnya untuk tidak taat sebagai bentuk dendam terhadap orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, seorang ibu akan mendapati anaknya terus bertambah pembangkangannya setelah mendengar perbuatan buruknya diberitahukan kepada orang lain.

Butuhnya seorang anak yang membangkang kepada tambahan kemerdekaan
Sesungguhnya seorang anak mencari kebebasan dalam fase pertama masa kanak-kanaknya. Tumbuhan yang kekurangan udara bersih akan tumbuh lemah menguning, dan tidak akan dikagumi orang-orang yang melihatnya. Yang layak dilakukan bagi kedua orang tua adalah bersabar di hadapan kesia-siaan putra yang membangkang, di hadapan cara makannya, permainannya, jalannya, selain gangguannya terhadap orang lain.

Sesungguhnya perbuatan yang tidak diridhai dari gerakan dan prilakunya adalah hasil wajar dari kehilangan kebebasan yang cukup bagi tumbuhnya segala keinginan dalam suasana yang kondusif. Oleh karena itu, obatnya adalah diam terhadap perilakunya, serta tidak memberikan peringatan, dan tidak turut campur dengan urusannya sepanjang masih kembali kepada keadaan yang wajar.

Sesungguhnya terus-menerus merubah perilakunya akan semakin menguatkan permasalahan. Karena terus-menerus bermakna membatasi kebebasannya dalam bergerak. Oleh karena itu, ia semakin menambah pembangkangannya dengan bentuk yang tidak lagi bisa diobati.

Penggunaan Perlombaan
Sesungguhnya tuntutan dari seorang anak yang membangkang dalam fase kanak-kanak pertama dalam melakukan suatu hal biasanya menghadapi penolakan dan ketidak-terimaan, maka agar kita bisa membawa seorang anak untuk bisa menghasilkan sebagian perkara penting, hendaknya menggunakan metode perlombaan.

Contoh, jika seorang ibu ingin anaknya mempercepat jalannya di jalan, dan meminta hal itu darinya, maka itu tidak memiliki makna jika dia masih membangkang. Yang utama adalah dia katakan kepada anaknya: “Ayo, siapa di antara kita yang sampai pertama kali di rumah, kamu atau aku?”

Saat sang ibu ingin anaknya makan cepat maka hendaknya mengatakan, “Mari kita lihat siapa juara pertama dalam menyelesaikan satu piring makanan!” Begitu seterusnya. Wallahul Muwaffiq ila aqwamit Thariq.

 

 Sumber : https://www.facebook.com/qiblati/posts/686246224747602
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: