Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Berjamaah

images (12)Dari Ubay bin Ka’ab berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Shalatnya seseorang bersama orang lain adalah lebih baik dari shalatnya sendirian, dan shalatnya bersama dua orang adalah lebih baik dari shalatnya bersama satu orang, dan apabila lebih banyak jumlahnya maka akan disukai oleh Allah’.”
[HR Abu Daud dan an-Nasa’i; dishahihkan Ibnu Hibban]

a). Apabila makmum seorang pria saja.

Dari Jabir berkata,

كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فِى سَفِرٍ فَانْتَهَيْنَا إِلَى مَشْرَعَةٍ فَقَالَ: أَلَا تُشْرِعُ يَا جَابِرُ؟ قُلْتُ: بَلَى قَالَ فَنَزَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ أَشْرَعْتُ قَالَ ثُمَّ ذَهَبَ لِحَاجَتِهِ وَ وَضَعْتُ لَهُ وَضُوْءًا قَالَ فَجَاءَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ خَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْهِ فَقُمْتُ خَلْفَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِى فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِيْنِهِ

“Saya pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam suatu perjalanan. Lalu kami sampai di sebuah jalan di pinggir sungai. Beliau bersabda, “Jangan engkau memulainya wahai Jabir”?. Aku berkata, “Ya”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallampun singgah dan akupun memulainya. Kemudian Beliau pergi untuk menunaikan hajatnya dan akupun menyediakan air wudlu untuknya. Lalu Beliaupun datang dan berwudlu, kemudian sholat dengan mengenakan satu kain yang diselempangkan antara dua ujungnya. Dan akupun berdiri di belakangnya lalu Beliau memegang telingaku dan meletakkanku di sebelah kanannya. [HR Muslim: 766].

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata,

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh)”. [HR. al-Bukhari: 117, 138, 183, 697, 698, 699, 726, 728, 859, 5919, 6316, an-Nasa’iy: II/ 87 dan at-Turmudziy: 233. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Imam al-Bukhariy rahimahullah memberikan judul bab terhadap hadits di atas,

بَابُ: يَقُوْمُ عَنْ يَمِيْنِ الإمامِ بِحِذائِهِ سَواء إِذا كانا اثْنَيْنِ

“Bab, (makmum) berdiri sejajar tepat di samping kanan imam jika mereka hanya sholat berdua”.

Kemudian dalam Kitab Fat-h al-Bariy Syar-h Shahih al-Bukhariy, al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah (wafat tahun 852H) menguatkan apa yang ditegaskan oleh Imam al-Bukhariy tersebut dengan beberapa atsar shahabat dan tabi’in. Di antaranya adalah sebagaimana berikut,

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

دَخَلْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِالْهَاجِرَةِ فَوَجَدْتُهُ يُسَبِّحُ، فَقُمْتُ وَرَاءَهُ فَقَرَّبَنِي حَتَّى جَعَلَنِي حِذَاءَهُ عَنْ يَمِينِهِ

“Aku pergi masuk mengunjungi Umar bin al-Khaththab pada waktu siang. Aku dapati beliau sedang sholat sunnah. Maka aku pun berdiri di belakangnya (sebagai makmum). Lalu beliau menarikku ke arahnya dan menempatkanku sejajar di sisi kanannya”.

Ibnu Juraij berkata,

قُلْتُ لِعَطَاءٍ الرَّجُلُ يُصَلِّي مَعَ الرَّجُلِ أَيْنَ يَكُوْنُ مِنْهُ؟ قَالَ إِلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ قُلْتُ أَيُحَاذِى بِهِ حَتَّى يَصِفَّ مَعَهُ لَا يَفُوْتُ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَتُحِبُّ أَنْ يُسَاوِيَهُ حَتَّى لَا تَكُوْنَ بَيْنَهُمَا فُرْجَةٌ قَالَ نَعَمْ

“Aku bertanya kepada Atha’, “jika seorang lelaki solat bersama seorang lelaki, maka di mana ia perlu berdiri?” Jawab Atha’, “Di sisi kanannya.” Aku bertanya lagi, “Adakah ia berdiri sejajar dengan imam sehingga posisi mereka seperti satu shaff, salah seorang dari keduanya tidak maju?”. Atha’ menjawab, “Benar.” Aku bertanya lagi, “Adakah engkau suka kalau ia berdiri rapat sehingga tidak ada lagi celah di antara keduanya?”. Atha’ menjawab, “Ya”.

Dua hadits dan beberapa astar di atas menjelaskan bahwa jika ada dua orang hendak sholat, maka posisinya adalah makmum berada di sebelah kanan imam bukan di belakangnya sebagaimana yang biasa dilakukan oleh masyarakat awam. Biasanya kaum awam jika terjadi hal seperti ini, akan tetap mengerjakan sholat, imam di depan sedangkan makmumnya tepat di belakangnya. Atau juga makmumnya di belakang sebelah kanan imam dan terkadang makmumnya maju sedikit dekat dengan imam namun tidak sejajar dengannya.

Padahal jika terjadi seorang imam mempunyai seorang makmum lelaki saja maka letak makmum itu di sebelah kanan tepat di sampingnya tidak mundur sedikitpun dengan menempelkan mata kaki dan bahu keduanya.

Dan jika sedang terjadi sholat yang terdiri dari seorang imam dan seorang makmum yang berdiri sejajar, lalu datang lagi seorang makmum pria maka imam berhak untuk mendorong makmum yang di sebelah kanannya untuk disejajarkan dengan makmum yang baru datang di belakangnya.

Hal ini didasarkan pada hadits Jabir yang panjang, yang sebagiannya berbunyi,

 ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

“Kemudian aku datang sampai berdiri di sebelah kiri Rosulullah, lalu beliau memegang tanganku dan menarikku hingga membuatku berdiri di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakhr, lalu ia berwudhu kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga membuat kami berdiri di belakang beliau”. [HR Muslim: 3010].

posisi_imam__makmum_21

b). Posisi Imam, seorang makmum pria dan seorang makmum wanita.

Lalu jika terdapat makmum seorang lelaki dan seorang wanita, maka posisinya adalah letak makmum di sebelah kanan sejajar dengan imam dan letak wanita dibelakang mereka berdua.

Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata,

      صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ عَائِشَةُ خَلْفَنَا تُصَلِّى مَعَنَا وَ أَنَا إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أُصَلِّى مَعَهُ

            “Aku sholat di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan Aisyah di belakang kami sholat bersama kami. Sedangkan aku di samping Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sholat bersamanya”. [HR an-Nasa’iy: II/ 86 dan Ahmad: I/ 304. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Dari Anas radliyallahu anhu berkata,

      صَلَّى بِى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ بِامْرَأَةِ مِنْ أَهْلِى فَأَقَامَنِى عِنْ يَمِيْنِهِ وَ اْلمـَرْأَةُ خَلْفَنَا

           “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah sholat bersamaku dan seorang wanita dari keluargaku. Beliau menempatkan aku di sebelah kanannya dan wanita itu di belakang kami”. [HR an-Nasa’iy: II/ 86-87 dan Muslim: 660. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

posisi_imam__makmum_5

c). Posisi Imam, dua orang makmum pria dan seorang wanita.

Lalu jika ada dua orang makmum lelaki dan seorang makmum wanita, maka letak posisi makmum lelaki adalah di belakang imam sedangkan letak makmun wanita berada di belakang makmum lelaki.

Dari Anas radliyallahu anhu berkata,

 صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku sholat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami” [HR al-Bukhoriy: 727, Muslim: 658, Abu Dawud: 612, at-Turmudziy: 234 dan an-Nasa’iy: II/ 85-86. Berkata asy-Syaikh al-Baniy: Shahih].

d). Posisi Imam, seorang makmum pria dan makmum dua wanita.

Apabila imam memiliki seorang makmum lelaki dan dua orang wanita, maka letak makmum pria berada di sebelahkan sejajar dengannya sebagaimana telah dijelaskan. Sedangkan letak kedua makmum wanitanya tetap berada di belakang imam dan makmum lelaki.

Dari Anas,

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ أَوْ خَالَتِهِ قَالَ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا

“Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam solat dengannya dan ibunya atau bibinya. Anas berkata, “Lalu Rosulullah meletakkanku berdiri di sebelah kanannya dan wanita di belakang kami.” [HR Muslim: 660 (269), an-Nasa’iy: II/ 86, Abu Dawud: 609 dan Ahmad: III/ 258. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

e).Posisi imam dan makmum lebih dari dua orang.

Sedangkan jika imam mempunyai banyak makmum dari golongan lelaki dan wanita, maka posisi mereka sebagaimana telah dijelaskan oleh keumuman dalil-dalil yang telah lalu.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dia berkata, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaff kaum laki-laki adalah yang paling awal, dan sejelek-jeleknya adalah paling terakhir. Dan sebaik-baik shaff wanita adalah paling terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling awal”. [HR. Muslim: 440, Abu Dawud: 678, an-Nasa’iy: II/ 93, at-Turmudziy: 224, Ibnu Majah: 1000 dan Ahmad: II/ 247. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Dari Jabir radliyallahu anhu di dalam hadits yang panjang, di antaranya,

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

“Kemudian aku datang sampai berdiri di sebelah kiri Rosulullah, lalu beliau memegang tanganku dan menarikku hingga membuatku berdiri di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakhr, lalu ia berwudhu kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga membuat kami berdiri di belakang beliau”. [HR Muslim: 3010].

posisi_imam__makmum_8

f). Posisi Imam dan makmum laki-laki, anak-anak dan para wanita

Abu Malik Al-Asy’ari berkata bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shaf laki-laki di depan anak-anak, anak-anak di belakang mereka sedangkan kaum wanita di belakang anak-anak.
[HR Imam Ahmad]

posisi_imam__makmum_9

g). Posisi Imam dan makmumnya para wanita.

Lalu apabila kaum wanita hendak mengerjakan sholat berjamaah, sedangkan tidak ada imam lelaki maka posisinya adalah mereka membentuk shaff yang lurus dan rapat dengan menempelkan kaki dengan kaki dan bahu dengan bahu di antara mereka dan letak imam mereka ada di tengah-tengah mereka di shaff terdepan.

Hal ini pernah dilakukan dan dicontohkan oleh beberapa sahabat wanita seperti Ummu Salamah, Aisyah dan Ummu Waraqah radliyallahu anhunna.

Dari Raithoh al-Hanafiyah,

أَنَّ عَائِشَةَ أَمَّتْهُنَّ وَقَامَتْ بَيْنَهُنَّ فِي صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ

“Bahwasanya Aisyah dahulu pernah mengimami para wanita di dalam sholat wajib dan beliau berdiri (sejajar) ditengah-tengah mereka”. [HR. ‘Abdurrazaq, ad-Daruquthniy, al-Hakim dan al-Baihaqi].

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Namun hadits ini dilemahkan/ didla’ifkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy, namun dia memiliki penguat dari hadits Hujairoh binti Hushain. Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh Ummu Salamah.

Dari Hujairoh binti Husain, dia mengatakan,

أَمَّتْنَا أُمُّ سَلَمَةَ فِي صَلَاةِ اْلعَصْرِ قَامَتْ بَيْنَنَا

“Ummu Salamah pernah mengimami kami (para wanita) ketika sholat Ashar dan beliau berdiri di tengah-tengah kami”. [HR Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqiy. Riwayat ini memiliki penguat dari riwayat lainnya dari jalur Qotadah dari Ummul Hasan].

Dari Qotadah dari Ummu al-Hasan bahwasanya ia pernah melihat Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengimami para wanita dan ia berdiri bersama mereka di dalam shaff mereka. [HR Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: atsar ini sanadnya shahih].

Dua Orang

posisi_imam__makmum_6

Lebih dari dua orang

posisi_imam__makmum_7

Demikian beberapa penjelasan tentang posisi shaff di dalam sholat yang merupakan salah satu dari sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang banyak diabaikan dan dianggap remeh oleh sebahagian besar kaum muslimin.

Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat untukku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin agar semakin menyempurnakan ibadah sholat mereka dan mendapatkan balasan pahala yang terbaik kelak di hari kiamat, dimana pada hari itu tidak akan berguana lagi harta benda ataupun pangkat derajat.

Wallahu a’lam.

Lampiran :

Posisi-Makmum-dan-Imam-Yang-Benar-dalam-Sholat

images (1)

Sumber :

https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/posisi-imam-dan-makmum-kaum-wanita-jika-sholat-berjamaah/

https://bahterailmu.wordpress.com/2011/07/29/posisi-imam-dan-makmum-dalam-shalat/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: