Makna Nuzulul Quran

Apa yang dimaksud nuzulul quran di malam lailatul qadar? Bukankah al-Quran turun secara berangsur-angsur?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini bahwa al-Quran turun ketika lailatul qadar. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allah di surat al-Qadar yang sering kita baca,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. al-Qadar: 1 – 3) Baca lebih lanjut

Betulkah Al-Qur’an Diturunkan Pada Tanggal 17 Ramadhan ?

Kapan Al Qur’an itu diturunkan? Sebagian mengatakan bahwa turunnya adalah 17 Ramadhan sehingga dijadikan peringatan Nuzulul Qur’an. Padahal tujuan Al Qur’an diturunkan bukanlah diperingati, yang terpenting adalah ditadabburi atau direnungkan sehingga bisa memahami, mengambil ibrah dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya. Baca lebih lanjut

Do’a Menyambut Lailatul Qadar

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

ALLOOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN, TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII

“Ya Allah ! sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf. Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah (limpahkanlah afiat kepada) aku.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Baca lebih lanjut

Hadits Dhaif dan Maudhu’ Seputar Ramadhan

Hadits 1

صوموا تصحوا

“Berpuasalah, kalian akan sehat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).

Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).
Baca lebih lanjut

Wanita Hamil dan Menyusui Qadha Puasa atau Bayar Fidyah?

Apakah wanita hamil dan menyusui mesti menunaikan qadha’ ataukah cukup fidyah saja ataukah mesti menunaikan kedua-duanya? Masalah ini terdapat perselisihan kuat di antara para ulama.

Yang jelas jika wanita hamil dan menyusui merasa berat untuk berpuasa, entah khawatir pada bayi maupun dirinya sendiri, maka ia boleh tidak berpuasa. Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29. Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Baca lebih lanjut

Safar ke Daerah yang Waktu Berbukanya Berbeda

musafirPertanyaan :

Ada orang yang terbang dari papua ke jakarta, otomatis waktu berbukanya tertunda sekitar dua jam. Atau dari jakarta ke papua, sehingga bukanya lebih cepat sekitar 2 jam. Lalu berbuka ikut yng mana?

Jawaban:

Baca lebih lanjut

Puasa Hari Syak

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sahabat Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, pernah mengatakan,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1542 dan beliau shahihkan).

Hadis ini sangat tegas melarang puasa di hari syak. Karena sahabat Ammar menyatakan, orang yang berpuasa hari Syak, berarti telah bermaksiat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca lebih lanjut